Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin, menyaksikan nania sedang di sidang papinya yang baru saja berlalu. saat itu semua mata tertuju pada nania.
nania pun terkejut ,Tiba-tiba saja wajah Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata untuk menjawap papinya. Mulut Nania terbuka.. Tapi tak ada satu kata apapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara tapi nania sadar dia tak punya kata apapun untuk papinya
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kedua kalinya Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan yang lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya.saat itu Arisan keluarga dianggap momen yang paling tepat untuk menyampaikannya ,karena semua berkumpul, bahkan anak2 dari kakak nania ikut menghadiri arisan tersebut
''Kamu pasti bercanda!.... , ujar kakaknya
''emang kenapa kak, ? kakak itu belum mengenal rafli......
.kakaknya diam dengan penuh keheranan kenapa nania bisa begitu cintanya dengan laki2 itu, padahak laki2 itu kelihatanya biasa biasa saja.
Nania pun kaget. melihat mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana saat itu menjadi hening semua membisu. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua mata menuju Nania!
''aku serius kak, dan aku yakin bahwa rafli lah laki2 yang terbaik dalam hidupku! , emang apa lucunya sih kalo rafli melamarku....lagian aku dan rafli saling mencintai'' .
''Tidak ada yang lucu, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!''
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan nania kira adalah pertanda baik. tapi sayang Perkiraan Nania tidak benar sebab setelah itu semua mata di rumah itu kembali menatap ke nania, .nania terdiam sejenak karena tak mampu berbuat apa2 untuk meyakinkan mereka.
''Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?'' Mama nania mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
''maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima, setelah mendengar perkataan dari mama nania. entah kenapa semua keluarga nania tidak ada satupun yang setuju dengan nania.
Kenapa?''
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania terdiam berpikir untuk memberi alasan pada keluarganya,
Nania Cuma mau Rafli, cuma rafli yang nania cintai, tolong ngertiin nania pa. yang akan ngejalanin hidup tu nania bukan papa. sahutnya dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu nania tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak setuju kalo nania menikah dengan rafli.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah karena keluarganya tdk ada satupun yang setuju dengan rafli.
Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya perasaan cinta dan yakin dengan cintanya dia bisa hidup bahagia
naniapun bingung harus bagaimana untuk membela cintanya di samping itu juga nania menghargai mereka yang telah menuntun Nania menapaki hidup dan mengasuh hingga umur duapuluh tiga thun.
nania ahirnya putus asa meyakinkn keluarganya,dan pada akhirnya Mereka pun menikah meskipun tanpa restu dari keluarganya
**
setelah Setahun pernikahan. namun Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, dan sering terdengar bisik-bisik tetangganya di belakang Nania,.
apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia, yang mukin tidak bisa di dapat dari harta dan tahta yang mereka jadikan ukuran.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania. dan aku sangat bahagia bersama rafli, suatu saat nanti kakak pasti akan sadar bahwa rafli laki2 yang terbaik untuk nania.'' ujar nania dengan penuh keyakinan
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu untuk menjawab kata2 dari ketiga kakaknya itu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi nania percuma meyakinkan mereka.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak mengatakan itu semua. Padahal aku sudah menikah dan sebentar lagi aku punya anak dari rafli.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu pun tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal istrinya sudah menasehsti dusminys, itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. namun hanya tersenyum penuh kemesraan, ketika Nania memintanya untuk tidak memaksakan dirinya bekerja keras
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?
Lalu dia mengelus lembut pipi Nania dan mendaratkan kecupan manis. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah, karena kecupan manis dari suami tercintanya
Inilah kebahagiaan hidup yang diimpi-impikan semua orang.
itu sebabnya kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia,semua itu menjadi tidaklah penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan nania, saat itu posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania begitu megah dan besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami yang terbaik di dunia. Hidup nania pun berada di puncak kebahagiaan...
namun entah kenapa Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama, bahkan semua orang.
Sungguh beruntung suaminya. mendapatkan istri cantik dan kaya! Tak imbang! bisik-bisik itulah yang selalu terdengar rafli dan nania.
kadang bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
setelah Tahun kesepuluh pernikahan, hidup nania pun masih berada dalam puncak kebahagiaan. Anak-anak nania makin besar. kini nania sedang mengandung yang ketiga. sampai saat itu, tak sekalipun Rafli mengecewakan hati Nania, atau membuat Nania menangis.
sampai akhirnya Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. padahal Sudah lewat dua minggu dari waktunya.!
kemudian nania di bawa ke dokter, untuk memastikan keadaanya.
awalnya dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. kata dokter Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya nania sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidurnya. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang menjenguknya.
tapi sayang apa yang terjadi tak seperti perkiraan dokter, meski obat kedua kalinya sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. namun saat itu nania sudah merintih-rintih kesakitan
Tigapuluh jam berlalu. Nania merintih2 menahan rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Rafli termangu seakan2 tak sanggup melihat istrinya yang merintih2 kesakitan sedang memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
saat itu rafli tak sedetik pun melepas genggaman tangan istrinya.
.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Lelaki itu meneteskan air mata beberapa saat, dan cemas penuh kehawatiran.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik darirumahnya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatianya dengan Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil, Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang bayinya kerumah.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai saat itu terjadi sedikit demi sedikit percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit untuk menemani istri tercintanya itu, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. untungnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin cuty penuh.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. di samping istrinya rafli tak henti2 membacakan doa untuknya, dan tak lupa sehabis sholat dia selalu membacakan al-quran di sampingnya . Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun nania tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya suaminya.
Nania, bangun,sayang? tak bosen-bosenya rafli membisikkan kata2 itu berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai putus asa dan berfikir untuk pasrah, namun Rafli tak sedikitpun merasa putus asa dan dia tetap berjuang. Datang setiap hari mengunjungi istrinya ke rumah sakit, Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania membacakanya dengan suara pelan di dekat nania. Sambil tak bosan-bosannya rafli berbisik nania bangun sayanggg....
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, apapun akan rafli relakan, bagi rafli yang terpenting yaitu nania. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata di matanya, senyumnya, semua yang menjadi sumber semangat bagi Rafli.
Rumah mereka terasa sunyi tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain selain istrinya ,bahkan dia tak mmperdulikan dirinya sndiri , badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
ia hnya menginginkan nania bisa melihatnya lagi
setelah satu bulan nania di rawat doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh di kelopak matanya.
Asalkan Nania sadar, semuanya tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama lima tahun. Memandikan dan menyuapi makanan Nania, lalu mengantar anak-anaknya satu persatu ke sekolah. Setiap sore setelah pulang kerja, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah lalu menggendong Nania ke teras, melihat pemandangan sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu mengajak Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, ke manapun mereka selalu mengajak nania .Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya . Mereka semua menatap Rafli yang berkeringat karena mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. namun ia selalu tersenyum meskipun lelah dan berkeringat.
lama kemudian Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! kalo Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan lain!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang suami yang mau menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik itulah yang skg sering mereka dengar dari tetangga kadang juga dari kakak2nya, Papa dan Mamanya.
Bisik-bisik itu sempat membuat Nania makin frustrasi.
tapi kemudian nania menyadari kalo itu salah. Orang-orang di luar masih saja ttp berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu berbisik2. Hanya saja, bisik-bisik itu kini berbeda bunyinya.?
nania termenung sambil melihat anak2nya sedang barmain dengan ayahnya...
dulu nania sempat putus asa untuk menunjukan kebaikan rafli di mata keluarganya, tapi kini semua tanpa ia tunjukan mereka semua pasti sudah sadar, bahwa materi bukanlah hal utama yang menjamin seseorang bahagia,
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania,...!?
kini kluarga nania baru menyadari bahwa selama ini yang mereka banggakan telah ,musnah, dulu nania yang cantik, sukses , pintar, kini hnya terbaring di kursi roda,
seakan2 merasa manusia yang paling hina, meskipun begitu namun rafl itak sedikit pun mengecewakan hati nania.
begitu mulianya hati seorag yang berasal dari keluarga biasa, berpenampilan biasa, tapi tapi kesetiaan hatinya bisa membuat nania merasa jadi wanita yang bahagia memilikinya.
sejak saat itu hubungan rafli dengan ayah dn ibu nania semakin harmonis, termasuk kakak2nya nania pun sering menjenguk e rumah nania,
nania pun ahirnya hidup bahagia bersama rafli dn anak2 nania.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar